
Jakarta – Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan teknologi deepfake. Dalam beberapa hari terakhir, beredar luas video dan pesan suara palsu yang menyerupai tokoh publik, pejabat, hingga figur bisnis ternama, yang digunakan untuk menipu korban dengan iming-iming investasi dan bantuan sosial.
Kementerian Kominfo menyatakan bahwa teknologi AI kini mampu meniru wajah dan suara secara sangat realistis, sehingga sulit dibedakan oleh masyarakat awam. Modus yang paling sering ditemukan adalah permintaan transfer dana cepat, tautan palsu, serta ajakan bergabung ke grup pesan instan yang mengatasnamakan institusi resmi.
Pihak kepolisian melalui Polri mengonfirmasi telah menerima peningkatan laporan terkait penipuan digital dalam sepekan terakhir. Beberapa korban mengaku tertipu setelah menerima panggilan video singkat yang menampilkan wajah mirip atasan atau tokoh yang mereka kenal, disertai instruksi mendesak untuk mengirim uang.
Kominfo mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi ganda, tidak mudah percaya pada konten visual atau audio yang bersifat mendesak, serta memastikan informasi berasal dari kanal resmi. Masyarakat juga diminta tidak membagikan data pribadi, kode OTP, atau mengklik tautan mencurigakan yang beredar melalui media sosial maupun aplikasi pesan.
Selain edukasi publik, pemerintah tengah berkoordinasi dengan platform digital untuk mempercepat take-down konten deepfake berbahaya dan memperkuat sistem pelaporan. Langkah ini dinilai penting mengingat penyalahgunaan AI berpotensi merusak kepercayaan publik dan menimbulkan kerugian finansial yang besar.
Pakar keamanan siber menilai literasi digital menjadi kunci utama menghadapi ancaman ini. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu mengenali ciri-ciri konten palsu dan tidak mudah terjebak penipuan berbasis teknologi canggih.




